06
Apr
10

BUDAYA, BAHASA DAN KOMUNIKASI

1.1 Pendahuluan

Sebagaimana konsistensi kita terhadap pendahuluan selalu diawali dengan sebuah pertanyaan yang akan merangsang proses kognitif kita maka pertanyaan pada bab ini ialah;

“Apa yang terjadi jika kita hidup tanpa budaya dan bahasa?”

“Apa yang terjadi jika kita hidup di zaman batu?

“Apa yang terjadi jika tidak ada Bahasa Indonesia?

Pertanyaan itu sebaiknya Anda tanyakan terlebih dahulu dalam diri Anda, renungkan, fikirkan dan jawablah! Setelah itu diskusikan jawaban tersebut dengan teman Anda!

1.2 Aspek Budaya dalam Komunikasi

Dengan kesibukan kita, mungkin kita lupa bersyukur kepada Tuhan bahwa kita diciptakan dalam bentuk dan sifat yang terbaik dibandingkan dengan mahluk yang lain. Perbedaan utama kita dengan mahluk yang lain, ialah kemampuan kita berfikir dan merasakan dengan moral yang jauh lebih tinggi daripada mahluk lainnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Tuhan menitahkan kita sebagai ‘pemimpin’ bagi mahluk yang lain. Hal tersebut bukanlah perkara yang datang begitu saja sebab Tuhan telah memberikan kita kenikmatan kekuatan pemikiran dan perasaan moral tersebut. Kekuatan itulah yang disebut sebagai budaya. Dari asal kata BUDI dan DAYA. Budi bermakna pemikiran/ perasaan sedangkan daya berarti kemampuan. Hal tersebut bermakna bahwa hanya manusialah yang mempunyai kekuatan tersebut untuk membuat kehidupan dirinya dan mahluk yang lain menjadi lebih baik. Hanya manusialah yang mempunyai budaya yang lebih baik dari mahluk lain. Dengan kekuatan tersebut maka manusia diharapkan mampu memimpin alam semesta ini. Tetapi tentu saja, menjadi pemimpin tidaklah mudah sebab kita pasti diminta pertanggungjawaban terhadap semua amal perbuatan kita dalam memimpin, setidaknya memimpin diri kita sendiri. Sudahkah kita mengendalikan diri dalam berkomunikasi?

Asking is thinking yang saya sajikan diatas tentunya berkaitan dengan budaya manusia, terutama dalam proses berkomunikasi. Para sosiolog dan antropolog menyarikan bahwa budaya merupakan proses konvensi atau kesepakatan berdasarkan pemikiran dan perasaan manusia dengan kumpulannya. Termasuk salah satunya ialah kesepakatan bahasa. Perlu ditekankan dalam pemaknaan bahasa di sini bukan saja perihal komunikasi verbal tetapi juga bahasa yang mengarah kepada non verbal. Secara jelas, mungkin kita tetap bisa hidup tanpa budaya dan bahasa, namun tidak sebaik sekarang. Mungkin kita tetap bisa hidup di zaman batu karena budaya dan bahasa yang disepakati pada saat itu lebih sederhana daripada sekarang ini. Namun karena kita telah terbiasa dengan kemajuan budaya dan bahasa kita sehingga kalau sekarang kita diminta kembali ke zaman batu tentunya akan mengalami tekanan (stress). Mengapa stress? Karena terjadi kesenjangan antara harapan kita yang ingin berkomunikasi da berbudaya secara maju namun realitanya kalau kita kembali ke zaman batu, hal tersebut tidak mungkin terjadi. Oleh karena itu, fenomena akan selalu kembali merujuk kepada konteksnya (Albert Camus).

Oleh karena pentingnya budaya dalam proses komunikasi sebagai salah satu determinan atau faktor penentu maka Burgon & Huffner (2002) menjelaskan bahwa budaya merupakan salah satu fondasi utama dalam proses komunikasi. Pernyataan ini mempunyai alas an bahwa budaya merupakan faktor pembentuk adanya bahasa yang disepakati dalam komunitas tertentu. Sekali lagi, perluasan jenis bahasa ini termasuk bahasa verbal dan non verbal. Contoh bahasa yang terbentuk dengan kesepakatan budaya secara verbal ialah Bahasa Indonesia. Sedangkan contoh bahasa yang terbentuk dengan kesepakatan budaya secara non verbal dalam konteks budaya Indonesia ialah ‘anggukan’ yang berarti setuju atau ‘ya’. Mungkin akan berbeda kalau kita melihat dalam konteks budaya lain, seperti ‘anggukan’ di konteks budaya India berarti ‘tidak’ atau ‘nehi’ dan sebaliknya untuk ‘gelengan’ kepala. Sekali lagi semua terikat dalam suatu konteks budaya.

1.3 Aspek Bahasa dalam Komunikasi

Bahasa merupakan simbol yang general dan disepakati oleh suatu komunitas untuk menyampaikan pesan, keinginan dan persepsi (jembatan komunikasi). Jenis bahasa dikategorikan beberapa hal (Wikipedia, 2008):

  1. Bahasa : bahasa verbal & non verbal
  2. Bahasa : tulis & lisan
  3. Bahasa : bahasa resmi & bahasa pergaulan (prokem)

1.3.1 Proses Pembentukan Bahasa

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa budaya merupakan pembentuk bahasa maka bahasa yang terbentuk ini pun sebenarnya juga merupakan kesepakatan atau konvensi yang mengakar budaya pada suatu komunitas yang lebih kecil (mikrosistem). Jika bahasa yang digunakan mikrosistem ini eksis, berkembang dan menyebar maka dapat diterima oleh makrosistem. Sebagai contoh, bahasa Melayu (Riau & Kepulauan Sumatera) yang merupakan dasar pembentukan bahasa Indonesia dapat berkembang karena menjadi lingua franca atau bahasa pergaulan, seperti dalam perdagangan, penaklukan suatu kerajaan (politik), pendidikan dan perkawinan.

Bahasa Melayu sudah lama digunakan dalam budaya Melayu di wilayah Nusantara, antaranya di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand Selatan (Pattani), Filipina, Vietnam, Kemboja, Kepulauan Pasifik, Sri Lanka, Cape Town, Papua dan Timor Leste. Oleh karena itu, diperkirakan lebih dari 300 juta orang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa kehidupan sehari-hari. Bahkan bahasa Melayu dikenal sebagai bahasa terbesar keempat di dunia setelah bahasa Inggeris, bahasa Mandarin dan bahasa Hindi/ Urdu (Asmah, 1998). Kemudian bahasa Melayu ini berkembang sesuai dengan kondisi sejarah, demografi, pendidikan dan politik di setiap wilayah yang menggunakannya (Zack, 2007).

Dalam bahasa Indonesia sendiri telah mempunyai kesepakatan untuk membakukan bahasa verbal dalam bentuk tulisan (simbol) dan ucapan. Kesepakatan budaya ini yang telah dibakukan dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

1.3.2  Bahasa dalam Lintas Budaya

Kita tidak dapat menafikan bahwa bahasa sangat terpengaruh oleh budaya. Oleh karena zaman globalisasi ini maka memungkinkan budaya saling bersinggungan. Persinggungan dan pertemuan budaya inilah yang memungkinkan manusia memasuki alam lintas budaya. Menurut catatan Burgon & Huffner (2002), beberapa perbedaan bahasa dalam lintas budaya dapat terlihat dari;

a.       Perbedaan bahasa non verbal à contoh: ‘anggukan’ dalam konteks budaya Indonesia dengan India, cipika-cipiki (touching) dalam konteks budaya timur dengan barat.

b.      Perbedaan intonasi à contoh: intonasi yang meninggi di Jawa Timur akan dirasa ‘mendikte’ oleh orang yang mempunyai orientasi budaya Jawa Tengah atau Yogyakarta.

c.       Perbedaan pemaknaan bahasa/ kata à contoh: kata ‘butuh’ dalam konteks budaya Indonesia dimaknai sebagai keperluan dan dalam konteks budaya Malaysia dimaknai sebagai alat kelamin.

d.      Perbedaan diksi à konteks budaya Jawa Timur cenderung lebih asertif dalam menyampaikan pendapat daripada konteks budaya Jawa Tengah yang cenderung ‘unggah-ungguh’ sehingga diksinya pun berbeda. Contoh: leveling diksi penyebutan ‘kamu’ dalam konteks budaya Jawa Tengah yang berjenjang, yaitu ‘kowe’, ‘sampeyan’, ‘panjenengan’, ‘pangandika’.

1.3.3  Hal-hal yang Berkaitan dengan Penggunaan Bahasa

a. Dalam kaitannya dengan lintas budaya, seseorang dapat mengalami cultural shock jika tidak mampu menyesuaikan diri dalam proses komunikasi lintas budaya. Hal ini merupakan hasil penelitian dari Furnham & Bochner (1986).

b. Komunikasi dengan bahasa non verbal membantu penegasan komunikasi verbal lintas budaya (Hammer, 1989). Hal ini disebabkan karena bahasa non verbal lebih universal daripada bahasa verbal.

c.    Dalam era globalisasi ini maka memungkinan terjadinya persinggungan budaya dan bahasa. Bahkan memungkinkan terjadinya ‘penjajahan bahasa’ baik melalui penjajahan fisik, pendidikan/ scholarship, bisnis, agama dan lain sebagainya. Dikatakan sebagai ‘penjajahan bahasa’ karena dalam bahasa itu juga termasuk di dalamnya budaya asal dari bahasa tersebut.

1.4 Excellent with Morality

Menutup bab ini maka petikan moral akan mengangkat dua filosofi terkenal:

Kuasailah kemajuan suatu bangsa melalui budaya dan bahasanya”

“Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”

Pemaknaannya:

Kedua filosofi tersebut menyiratkan kepada kita mengenai penyesuaian diri atau kemampuan adaptasi kita terhadap suatu budaya dan bahasa. Bahkan kita dapat menguasai atau setidaknya mencontoh kemajuan suatu bangsa jika kita menguasai budaya dan bahasa. Tentu saja, tanpa harus melunturkan nilai-nilai positif budaya kita sendiri.

disadur dari: http://baguspsi.blog.unair.ac.id/

Rujukan :

Arbak Othman. 1994. Kamus bahasa Melayu. Kuala Lumpur: Penerbit Fajar Bakti Sdn.Bhd.

Asmah Haji Omar. 1998. Setia dan santun bahasa. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Budiyono. 2005. Kamus lengkap bahasa Indonesia. Surabaya: Penerbit Bina Ilmu.

Burgon & Huffner. 2002. Human Communication. London: Sage Publication.

Zack, A. 2007. Perbincangan: Bahasa Melayu. http://ms.wikipedia.org/wiki/Perbincangan:Bahasa_Melayu  [8 Februari 2008].

About these ads

0 Responses to “BUDAYA, BAHASA DAN KOMUNIKASI”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


hay..hay..hay…

semuanya yang sudah nyasar di blog ini...(mungkin)anda salah satu orang yang beruntung...hehehehe... terimakasih sudah sudi mampir...tapi jangan lupa isi guest book dan beri komen juga yah...kamsya...matur nuwun... ^^,

visitors

  • 29,673 orang

sekarang tanggal berapa yah?

Mari twepersss o_O

Arsip

yang ngintip

free counters
facebook: http://www.facebook.com/nyepsycho/ twitter : http://twitter.com/nyepsycho

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: