06
Apr
10

PENDEKATAN TINDAKAN KOMUNIKASI PERSUASI

1.1 Pendahuluan

Pada dasarnya komunikasi persuasi ialah kemampuan komunikasi yang dapat membujuk atau mengarahkan orang lain. Pada bab ini, pertanyaan untuk merangsang proses berpikir kita ialah: “Manakah yang lebih mudah: membujuk diri sendiri atau membujuk orang lain?” Pertanyaan itu sebaiknya Anda tanyakan terlebih dahulu dalam diri Anda, renungkan, fikirkan dan jawablah! Setelah itu diskusikan jawaban tersebut dengan teman Anda! Sebelum dijawab, perlu kita ketahui bahwa ada 3 jenis pola komunikasi (Burgon & Huffner, 2002), yaitu:

a. Komunikasi asertif, yaitu kemampuan komunikasi yang mampu menyampaikan pendapat secara lugas kepada orang lain (komunikate) namun tidak melukai atau menyinggung secara verbal maupun non verbal (tidak ada agresi verbal dan non verbal).

b. Komunikasi pasif, yaitu pola komunikasi yang tidak mempunyai umpan balik yang maksimal sehingga proses komunikasi seringkali tidak efektif.

c. Komunikasi agresif, yaitu pola komunikasi yang mengutarakan pendapat/ informasi atau pesan secara lugas namun terdapat agresi verbal maupun non verbal.

1.2 Definisi Komunikasi Persuasi

Burgon & Huffner (2002) meringkas beberapa pendapat dari beberapa ahli mengenai definisi komunikasi persuasi sebagai berikut; • Proses komunikasi yang bertujuan mempengaruhi pemikiran dan pendapat orang lain agar menyesuaikan pendapat dan keinginan komunikator. •Proses komunikasi yang mengajak atau membujuk orang lain dengan tujuan mengubah sikap, keyakinan dan pendapat sesuai keinginan komunikator. Pada definisi ini ‘ajakan’ atau ‘bujukan’ adalah tanpa unsur ancaman/ paksaan. Bila kita merujuk kepada definisi komunikasi persuasi tersebut maka komunikasi persuasi tentunya tanpa aspek agresi. Oleh karena itu, komunikasi persuasi termasuk dalam pola komunikasi yang asertif. Terkadang kita lebih suka melakukan agresi kepada diri kita sendiri (baca: mendholimi diri sendiri). Contoh: belajar dengan SKS (Sistem Kebut Semalam), menunda makan, merokok, maniak games dan lain sebagainya. Tetapi mungkin dengan orang lain, kita lebih mampu menyayanginya, misalnya rela mati untuk orang yang kita kasihi. Berdasarkan analog semacam itu maka komunikasi persuasi kepada diri kita sendiri akan lebih sulit daripada persuasi kepada orang lain. Kenapa? Ya, karena kita lebih senang menganiaya diri sendiri sehingga sulit untuk mempersuasi diri sendiri. Bukankah persuasi bukan paksaan, bukan ancaman dan bukan pula dengan kekerasan (agresi).

1.3 Komponen Komunikasi Persuasi

Dalam komunikasi persuasi terdapat komponen atau elemen sehingga dapat disebut sebagai komunikasi persuasi. Komponen tersebut antaranya;

a. Claim, yaitu pernyataan tujuan persuasi baik yang tersurat (eksplisit) maupun tersirat (implisit). Misalnya, iklan pada umumnya menyatakan dengan lugas ajakannya untuk membeli suatu produk atau jasa tertentu. Namun ada yang implisit misalnya, iklan rokok yang tidak pernah menyatakan terang-terangan untuk mengajak audience-nya merokok. Mereka akan mengidentikkan dengan suatu fenomena menarik dan mudah diingat. Oleh karena itu, biasanya iklan rokok akan tampil kreatif karena larangan menampilkan secara terbuka ajakan untuk merokok.

b. Warrant, yaitu perintah yang dibungkus dengan ajakan atau bujukan sehingga terkesan tidak memaksa. Misalnya iklan yang diikuti dengan kata “ayo”, “mari” dan lain sebagainya.

c. Data, yaitu data-data atau fakta yang digunakan untuk memperkuat argumentasi keunggulan pesan dari komunikator. Contoh, iklan pembalut wanita yang menyatakan data “7 dari 10 wanita Indonesia menggunakan pembalut wanita XXX”. Jumlah tersebut merupakan data yang digunakan untuk memperkuat alasan menggunakan produk atau jasa. Ataupun iklan yang menampilkan foto “sebelum” dan “sesudah”. Inilah fungsi data argumentatif.

1.4 Pendekatan Dasar Komunikasi Persuasi

Aristotle menyatakan ada 3 pendekatan dasar dalam komunikasi yang mampu mempengaruhi orang lain, yaitu; • Logical argument (logos), yaitu penyampaian ajakan menggunakan argumentasi data-data yang ditemukan. Hal ini telah disinggung dalam komponen data. • Psychological/ emotional argument (pathos), yaitu penyampaian ajakan menggunakan efek emosi positif maupun negatif. Misalnya, iklan yang menyenangkan, lucu dan membuat kita berempati termasuk menggunakan pendekatan psychological argument dengan efek emosi yang positif. Sedangkan iklan yang menjemukan, memuakkan bahkan membuat kita marah termasuk pendekatan psychological argument dengan efek emosi negatif. •Argument based on credibility (ethos), yaitu ajakan atau arahan yang dituruti oleh komunikate/ audience karena komunikator mempunyai kredibilitas sebagai pakar dalam bidangnya. Contoh, kita menuruti nasehat medis dari dokter, kita mematuhi ajakan dari seorang pemuka agama, kita menelan mentah-mentah begitu saja kuliah dari dosen. Hal ini semata-mata karena kita mempercayai kepakaran seseorang dalam bidangnya.

1.5 Pendekatan Komunikasi Persuasi yang Efektif

Menurut Burgon & Huffner (2002), terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan agar komunikasi persuasi menjadi lebih efektif. Maksudnya lebih efektif yaitu agar lebih berkesan dalam mempengaruhi orang lain. Beberapa pendekatan itu antaranya;

1. Pendekatan berdasarkan bukti, yaitu mengungkapkan data atau fakta yang terjadi sebaga bukti argumentatif agar berkesan lebih kuat terhadap ajakan.

2. Pendekatan berdasarkan ketakutan, yaitu menggunakan fenomena yang menakutkan bagi audience atau komunikate dengan tujuan mengajak mereka menuruti pesan yang diberikan komunikator. Misalnya, bila terjadi kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah maka pemerintah dengan pendekatan ketakutan dapat mempersuasi masyarakat untuk mencegah DBD.

3. Pendekatan berdasarkan humor, yaitu menggunakan humor atau fantasi yang bersifat lucu dengan tujuan memudahkan masyarakat mengingat pesan karena mempunyai efek emosi yang positif. Contoh, iklan-iklan yang menggunakan bintang comedian atau menggunakan humor yang melekat di hati masyarakat.

4. Pendekatan berdasarkan diksi, yaitu menggunakan pilihan kata yang mudah diingat (memorable) oleh audience/ komunikate dengan tujuan membuat efek emosi positif atau negative. Misalnya, iklan rokok dengan diksi “nggak ada loe nggak rame…”. Namun keempat pendekatan tersebut dapat dikombinasikan sesuai dengan tujuan persuasi dari komunikator. Misalnya pendekatan berdasarkan humor dikombinasikan dengan pendekatan berdasarkan diksi. Ataupun pendekatan berdasarkan ketakutan dikombinasikan dengan pendekatan berdasarkan bukti.

1.6 Pengubahan Sikap Melalui Komunikasi Persuasi

Komunikasi persuasi mempunyai tujuan utama untuk mengubah sikap komunikate. Oleh karena itu, komunikasi persuasi dikatakan efektif jika mampu mengubah sikap bahkan memodifikasi perilaku komunikate/ audience. Menurut Brehm & Kassin (1996), terdapat dua jalur penting dalam pengubahan sikap, yaitu; a. Central route, yaitu kuatnya argument yang disampaikan secara langsung melalui komunikasi persuasi. b. Pheriperal route, yaitu argument yang disampaikan melalui media komunikasi persuasi (biasanya dengan simbol-simbol atau bahasa non verbal tertentu). Misalnya, kita menjadi taat dengan polisi yang berseragam dan lain sebagainya. Adapun aspek persuasi meliputi;

1. Sumber pesan, yaitu atribut-atribut yang melekat kepada komunikator antaranya ialah fisik yang menarik dan atau mempunyai kesamaan atribut sosial dengan komunikate/ audience.

2. Pesan, yaitu pesan yang menarik dengan beberapa indikator mempunyai argumentasi data, bukti atau fakta yang kuat; intensitas waktu yang tepat; singkat padat sehingga mudah diingat (memorable); mempunyai efek emosi baik positif maupun negatif.

3. Audience. Disebut audience karena dalam jumlah komunikate yang banyak (plural). Audience yang mudah dipengaruhi ialah yang berkeadaan sangat membutuhkan informasi dengan bukti yang kuat dan sedang mengalami konflik dilematis karena bingung memilih suatu produk/ jasa. Misalnya, seorang remaja yang sedang mengalami kebingungan karena memilih produk obat jerawat.

1.7 Sumber Efektivitas Komunikator

Seorang komunikator dikatakan efektif dapat mempengaruhi orang lain jika (Burgon & Huffner, 2002);

•• A clear understanding of his/her own purpose, komunikator mampu memahami tujuan atau target komunikasi persuasi dengan jelas.

•• A mastery of his/her subject matter, komunikator menguasai bahan atau materi yang akan disampaikan.

•• Analysis of his own audience, komunikator harus mampu mengenalis dan menganalisis kondisi psiko-demografis audience.

PENDEKATAN TINDAKAN KOMUNIKASI

Menurut Rousydiy (1985) terdapat beberapa indikator efektivitas persuasi dari sudut pandang audience, yaitu;

1. Audiens mempunyai pemikiran yang sama dengan komunikator

2. Audiens berempati dengan komunikator

3. Audiens mengubah sikap

4. Audiens melakukan internalisasi dan mempertahankan nilai-nilai yang dipersuasikan oleh komunikator

1.9 Excellent with Morality

Jika kita telah mengetahui mengenai komunikasi persuasi sangat ampuh untuk mempengaruhi sikap orang lain maka perlu kita terapkan dengan nilai; “Ajaklah pada kebajikan dan cegahlah kemungkaran”

 

disadur dari: http://baguspsi.blog.unair.ac.id/

Rujukan : Brehm & Kassin. 1996. Social Psychology. Third Edt. Boston: Houghton Mifflin Co. Burgon & Huffner. 2002. Human Communication. London: Sage Publication.


0 Responses to “PENDEKATAN TINDAKAN KOMUNIKASI PERSUASI”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


hay..hay..hay…

semuanya yang sudah nyasar di blog ini...(mungkin)anda salah satu orang yang beruntung...hehehehe... terimakasih sudah sudi mampir...tapi jangan lupa isi guest book dan beri komen juga yah...kamsya...matur nuwun... ^^,

visitors

  • 41,885 orang

sekarang tanggal berapa yah?

Mari twepersss o_O

Arsip

yang ngintip

free counters
facebook: http://www.facebook.com/nyepsycho/ twitter : http://twitter.com/nyepsycho

%d blogger menyukai ini: